
Akhirnya ϑ¡ penghujung waktu aku tersadar akan kebodohan ku
Dan sekarang aku berhenti berharap, bahkan lebih parahnya aku berhenti berusaha
Disini aku terduduk
Terlalu dalam luka yang kau tusukkan
Tapi tenanglah aku masih bisa tersenyum, untukmu, dan untuk mereka
Tenanglah, aku masih kuat untuk tersenyum
Karena cukup aku saja yang rasa
Mulai saat ini, aku takkan merepotkan dengan segala urusanku dan ocehanku
Aku hanya akan tersenyum
Tersenyum untuk menutupi luka
Dan tersenyum untuk kebodohanku
Andai saja,
Yaa kata itu, andai saja
Namun apalah guna berandai-andai
Nasi sdh jadi bubur,,
Anggap saja bertemu orang yang salah
Atau mungkin Tuhan punya rahasia ϑ¡ balik ini semua
Dulu aku pernah menulis tentang
Dulu pernah menyukai seseorang
Dulu pernah mencintai seseorang
Dulu pernah berharap ada seorang pangeran berkuda putih datang melamar..
Aah,, itu cuma diksi permainan kata-kata,, 
Sebenarnya berharap ada seorang lelaki yang berhati pangeran yang pemberani, menghadap abah memintaku menjadi istrinya atau paling ngga’ meminta izin kepada abah untuk membawaq pergi
Ada seseorang yang cukup berani yang berbicara dg abah
Bukan dia dan dia, tapi dia
Dia yang memberi harapan dengan mengagungkanku tapi dia juga yang menghempasku ke tanah
Pangeran yang cukup cerdas dengan membenarkan dan mengingatkanku jika aku salah
Bukan seseorang yang cukup tangguh mendukungku padahal semua yang ku lakukan adalah salah
Pernah ku temui seorang lelaki yang cukup tangguh dalam usahanya mendapatakan hatiku tapi tak pernah sedikit pun mampu berkata “kamu salah”
Andai bertemu dengan seorang Ɣªήğ tak mempermasalhkan sifat manja dan genitku,,karena hanya pada orang yang ku titipkan hatiku untuknya aku bisa berlaku demikian
Andai bertemu dengan seorang yang mampu menopang tubuhku
Karena padanya aku bersandar ketika lelah, dan pada pundaknya aku ingin menangis
Bukan orang yang meminta ku berhenti menangis, karena ketahuilah menangis tanpa air mata itu jauh lebih sakit daripada kena maag kronis yang kambuh
Ketika aku bilang aku mencintai seseorang
Maka percayalah aku benar mengatakannya
Dan sepanjang perjalanan hidup, g pernah yang namanya mengalami cinta karena biasa atau cinta karena fisik
Suatu saat orang-orang yang menyia-nyiakan ku akan tau, seberapa berharganya aku untuk begitu saja disia-siakan
Aku tau Alloh sedang menyimpan pangeran yang nanti jadi suami ku, dimana dia adalah orang yang terbaik untukku,,,,
Sekarang muncul pertanyaan, mengapa baru jujurnya ϑ¡ akhir
Ternyata benar firasatku selama ini
Mengapa baru jujur sekarang, begitu susah kah berkata, “maaf, tidak bisa”
Mengapa harus seperti ini
Sudah lupa apa alasanku bertahan
Dan kali ini, mungkin anda akan semakin kesal membaca tulisan ini
Tapi ketahuilah, aku selalu bilang aku marah karena apa, dan aku ingin apa,, tapi entah kenapa, kata-kata itu tak penting menurutmu, lalu kau bilang kau tak tau salah apa
Aku tersenyum,
Aku menulis, karena inilah keahlianku,
Aku menulis, itulah bentuk penyampaian kegalauanku
Jika aku tak kuat iman, mungkin aku sudah bunuh diri atau paling tidak depresi
Maaf, sekarang bagiku kau sudah seperti orang lain,,
Maaf, jika terkadang aku khilaf mendekatimu
Namun, jika aku sadar maka aku akan pergi menjauh
Karena memang aku yang hina ini tak pernah berhak untuk seseorang yang bermahkota dan suci
Banjarbaru, aku tersenyum untukmu 
Senyum terima kasih untuk semuanya
Ingatlah, mulai sekarang tak usah kau repot-repot untuk menanam benih kasih sayang,, karena aku takut itu menyiksamu
Biarlah aku yang akan jadi laila yang mati karena cinta, tapi ku tak ingin kau Ɣªήğ jadi majnun karena cinta
Oh iya, maafkan aku yang membuatmu malu dihadapan teman-temanmu,,
Seharusnya aku pendam sendiri saja biar tiada yang tau,, atau seharusnya aku bilang kepadamu saja, ah tidak lah, pasti km anggap tidak penting dan tidak usah diperhatikan