
Hari kamis tanggal 12 Maret 2009, saya bersama teman-teman melakukan observasi ke Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, dengan titik koordinat 30 23’ 55.7” S dan 1140 49’ 32.5” E sebagai objek penelitian. daerah ini memiliki jenis tanah liat, dengan struktur tanah yang tidak teratur teteapi cukup subur, dengan daerah perairan atau rawa yag cukup dominan, dan mata pencaharian warga sekitar berupa petani dan pemancing ikan.
Di desa Tungkaran tersebut terdapat beberapa ekosistem lahan basah, yang di dalamnya hidup beberapa jenis tanaman dan hewan. Tanaman yang hidup dalam ekosistem tersebut seperti enceng gondok, purun tikus, kangkung, teratai, kelakai ( Stenochlaena palutris ) dan beberapa tanaman lain, sedangkan untuk hewan ada beberapa jenis ikan yang hidup di daerah tersebut seperti papuyu, ikan sepat, ikan gabus, selain ikan ada juga jenis hewan lain yang hidup di sana seperti kodok dan siput. Danau yang ada di Desa Tungkaran dapat disebut sebagai lahan basah karena sudah memenuhi kriteria dari RAMSAR, yaitu tempat tersebut merupakan daerah rawa, yang terbentuk secara alami, bersifat payau dengan kedalaman pada waktu surut tidak lebih dari 6 meter, dan pengertian Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis.
Sebagai suatu daerah lahan basah rawa tersebut digunakan oleh warga sekitar untuk memancing dan menjala ikan, enceng gondok dan purun tikus yang ada di sana digunakan untuk kerajinan tangan seperti untuk membuat tas dan tikar, dan apabila daerah tersebut mulai surut maka rawa tersebut akan dialihfungsikan menjadi daerah persawahan dengan menanami bibit-bibit padi. Jadi, ada nilai ekonomis yang didapatkan oleh warga yang telah memanfaatkan daerah tersebut. Tetapi daerah ini tidak digunakan sebagai tempat rekreasi. Lahan ini juga berfungsi sebagai penampung air, dan tak jarang pada musim hujan terjadi banjir di daerah ini. Selain itu cost yang didapat masyarakat bisa berasal dari tanaman-tanaman yang sengaja ditanam oleh mereka seperti pisang, kelapa, mangga, dan beberapa jenis tanaman lainnya.

Daerah lahan basah di daerah tersebut dapat juga dipandang dari sisi kefarmasian dengan melihat tanaman-tanaman tersebut agar dimanfaatkan sebagai bahan penelitian, penggunaannya dengan mengisolasi zat berkhasiat dalam tanaman tersebut dan pembudidayaan tanaman tersebut tanpa merusak ekosistem yang sudah ada. Sebagai contoh purun tikus ( Eleocharis dulcis ) dapat digunakan sebagai pestisida alami yaitu Attraktan bagi penggerek batang, 
kelakai ( Stenochlaena palustris ) dapat digunakan sebagai pereda demam, mengobati sakit sakit kulit serta sebagai obat awet muda. Teratai juga dapat dimanfaatkan sebagai obat malaria, obat demam, obat eksim
Daun teratai terkenal sebagai obat penurun panas . karena daun teratai merangsang permukaan Pori pori kulit sehingga mampu memperlancar pengeluaran keringat karena hal tersebut panas badan akan menurun. jadi daun teratai bermanfaat sebagai obat demam. Batang teratai juga ada guna nya . batang teratai yang di rebus , kemudian airnya di minum dapat mengtasi gangguan lambung , disentri , melancarkan buang air kecil Akar teratai terutama teratai putih . tepung akar teratai putih rasanya agak manis. Tepung mentah akar teratai dapat mengobati sariawan , jika sudah dimasak tepung akar Teratai ber manfaat untuk menguatkan jantung Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa kandungan zat bioaktif kalakai di daun adalah flavonoid sebesar 1,750 persen, streroid sebesar 1,650 persen, dan alkaloid sebesar 1,085 persen. Sementara di batang, ternyata kalakai mengandung flavonoid sebesar 3,010 persen, steroid sebesar 2,583 persen dan alkaloid sebesar 3,817 persen. Dari serangkaian penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa kalakai mengandung zat bioaktif yang bersifat seperti anti oksidan seperti vitamin C, vitamin A, dan flavonoid. Zat bioaktif tersebut bekerja secara sinergis dengan makanisme antara lain dengan mengikat ion logam, radikal hidroksin dan oksigen singlet sebagai penghambat penuaan.
Tumbuhan Kangkung yang biasanya ditumis juga mengandung kandungan kimia antara lain karotena, hentriakontan dan sitosterol. Zat-zat tersebut berfungsi sebagai antiinflamasi, diuretik dan hemostatik. Beberapa khasiat dari tanaman ini antara lain untuk mengurangi haid yang terlalu banyak, mengatasi keracunan makanan, kencing darah, anyang-anyangan (kencing sedikit-sedikit dan rasanya nyeri), mimisan, sulit tidur, dan wasir berdarah. Sebagai obat luar, kangkung digunakan untuk mengobati bisul, kapalan dan radang kulit bernanah. Bahkan Eceng gondok selama ini lebih dikenal sebagai tanaman gulma alias hama. Padahal, eceng gondok sebenarnya punya kemampuan menyerap logam berat. Kemampuan ini telah diteliti di laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor, dengan hasil yang sangat luar biasa.Penelitian daya serap eceng gondok dilakukan terhadap besi (Fe) tahun 1999 dan timbal (Pb) pada tahun 2000.Untuk mengukur daya serap eceng gondok terhadap Fe, satu, dua, dan tiga rumpun eceng gondok ditempatkan dalam ember plastik berisi air sumur dengan tambahan 5 ppm FeSO>jmp 2008m<>kern 199m<>h 6024m,0<>w 6024m<4>jmp 0m<>kern 200m<>h 8333m,0<>w 8333m< dan HNO>jmp 2008m<>kern 199m<>h 6024m,0<>w 6024m<3>jmp 0m<>kern 200m<>h 8333m,0<>w 8333m< untuk menjaga keasaman. Eceng gondok terbukti mampu menurunkan kadar polutan Pb dan Fe. Oleh karena itu, diyakini eceng gondok juga mampu menurunkan kadar polutan Hg, Zn, dan Cu yang mencemari Waduk Saguling dan Cirata. Sebab, secara struktur kimia, atom Hg, Zn, dan Cu termasuk dalam golongan logam berat bersama Pb dan Fe.MEMANG dilaporkan eceng gondok dapat tumbuh sangat cepat pada danau maupun waduk sehingga dalam waktu yang singkat dapat mengurangi oksigen perairan, mengurangi fitoplankton dan zooplankton serta menyerap air sehingga terjadi proses pendangkalan, bahkan dapat menghambat kapal yang berlayar pada waduk.Untuk mengeliminasi gangguan eceng gondok, misalnya, caranya bisa dengan membatasi populasinya. Pembatasan dapat dilakukan dengan membatasi penutupan permukaan waduk oleh eceng gondok tidak lebih dari 50 persen permukaannya.
Selain tanaman, hewan-hewan yang ada disana dapat juga diambil zat berkhasiatnya. Menurut Prof.Doktor.Ir.Eddy Suprayitno MS, Guru Besar Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang dalam penelitian itu disebutkan, untuk memanfaatkan ikan haruan sebagai obat, ikan gabus diambil ekstraknya dengan mengukusnya, lalu menampung airnya. Air ekstrak itu langsung diminumkan ke pasien yang baru dioperasi.
Ikan haruan atau Channa striatus atau yang dikenal dengan nama lain Ophiocephalus striatus tersebut di Malaysia disebut pula haruan. Sejak tahun 1931, dalam literatur Malaysia telah menganjurkan pengobatan luka dengan haruan. Kemudian, perguruan tinggi di Malaysia hingga kini pun terus meneliti khasiat haruan dan memang di dalam haruan mengandung semua asam amino esensial dan asam lemak unik yang mampu mempercepat penyembuhan luka.
Apabila dilihat dari sisi seorang farmasis nantinya kita dapat memanfaatkan daerah rawa sebagai suatu asset yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai suatu lahan yang bernilai ekonomis, dan juga bermanfaat bagi orang lain, serta tidak merusak ekosistem yang sudah ada. Cara agar ahan tersebut kita gunakan sebagai sumber yang bernilai ekonomis adalah dengan cara mendirikan sebuah apotek di wilayah tersebut karena disana tidak terlihat adanya suatu apotek (bahkan jarak dengan PUSKESMAS pun cukup jauh), selain itu dengan memanfaatkan tanaman-tanaman tersbut sebagai obat baik dengan cara mengisolassi zat aktifnya, menjadikannya simplisia kering, menarik zat berkhasiatnya dengan cara maserasi, perkolasi, ataupun infusa. Disini dapat bermanfaat bagi orang lain karena kita dapat memberika penyuluhan-penyuluhan kesehatan dengan mudah, memberikan informasi tentang guna dan cara penggunaan tanaman tersebut. Maksud dari kalimat tanpa merusak ekosistem yang sudah ada karena kita bersama masyarakat yang lain dapat membudidayakan tanaman-tanaman dan hewan yang hidup di daerah rawa tersebut, sehingga ekosistemnya tetap terjaga dan kita juga tetap bisa mendapatkan keuntungan dari sana.
Lahan tersebut saat ini terlihat seperti lahan yang tidak dimanfaatkan, mungkin hanya dimanfaatkan pada musim tanam, untuk memancing, dan beberapa warga terlihat membuat kerajinan tangan. Padahal tanaman-tanaman dan hewan yang ada disana bisa dimanfaatkan lebih daripada itu apabila kita teliti lebih lanjut.
Terima kasih, semoga post ini berguna untuk orang lain
Dari berbagai sumber.
</a


topanz
18 Maret 2009 at 7:08 am
wahwah..udah lama ga liad pemandangan kayak gitu..tanaman seperti itu juga ternyata banyak kegunaannya ya..salah satunya sebagai tanaman obat
j1e108048
18 Maret 2009 at 12:35 pm
Iyun.. bagus’kan pemandangannya….
Di Martapura.. banyak kok pemandangan kaya gitu..
Kalau masuk lebih dalam, malah semua pemandangannya cuma ada enceng gondok yang keliatan…
Ntar dech kalau aku jalan-jalan ke Loksado.. aku posting disini foto-fotonya…. Pemandangannya jauh lebih bagus…
Sering2 mampir,ya..
topanz
19 Maret 2009 at 1:47 am
iya dah,ditunggu foto2 selanjutnya,insyaallah bkl sering mampir..berbagi pengalaman ternyata asik jg ya