hua,,hua,, bulan oktober kemaren, aq pergi ke loksado lo,, Ngambil sampel tanaman dari hutan sana,, kebetulan aq dapatnya tanaman yang namanya Mali-mali,, langsung aza ya aku kasih laporannya,, Moga dapat berguna sbagai bahan referensi,, (susah lo nyari literaturnya di internet,,,hehe,, Moga z yng baca ne laporan ga bosan,, *padahal diri sendirinya aza bosan baca ne laporan*,,)
Praktikum kali ini mengumpulkan informasi mengenai keberadaan, penyebaran dan pengetahuan tentang jenis tumbuhan obat di wilayah Muara Hatip Desa Hulu Banyu Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Mali-mali termasuk kedalam famili Leeaceae, merupakan tumbuhan perdu yang mempunyai ciri utama sebagai berikut : tinggi antara 3-5 meter, berbatang lurus dan berduri berwarna hijau rumput, daun bersisip berbentuk bulat lonjong. Batangnya hampir sebesar pohon pisang. Mempunyai kayu yang sangat keras. Mali-mali akan tumbuh lebih baik bila berada di dalam hutan, batangnya pun jauh lebih baik. Pohonnya akan berbatang tinggi besar dengan satu atau beberapa batang yang lurus. Kayunya dapat dibuat busur dan tongkat untuk tombak (Akhriyan, 2009).
1 Klasifikasi
Divisio : Spermayophyta
Sub divisio : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Rhamnales
Famili : Leeaceae
Genus : Leea
Spesies : Leea aquleata L.
(Depkes, xxxx).
Habitus Perdu, tahunan, tinggi 1,5-3 m. Batang berkayu, bercabang, bentuk bulal, masih muda berambut, hijau.. Daun majemuk, anak daun lanset, bertangkai pendek, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal membulat, panjang 6-25 crn, lebar 3-8 cm, berambut, hiijau. Bunga majemuk, bentuk malai, tangkai bersegi, kelopak bulat telur, panjang 2-5 cm, kuning keputih-putihan. Buah kotak, bentuk pulat, diameter ± 12 mm, masih muda hijau setelah tua hitam.. Biji kecil, segitiga, putih kekuningan. Akar Tunggang, coklat rnuda (Depkes, xxxx).
Biji Leea aquleata mengandung saponin, polifenol dan flavonoida(Depkes, xxxx).
Daun Leea aquleata berkhasiat sebagai obat luka baru dan pegal linu. Untuk obat luka baru dipakai ± 5 gram daun segar Leea aequata, dicuci, ditumbuk sampai lumat, ditempelkan pada luka dan dibalut dengan kain bersih (Depkes, xxxx).
Leea aquleata di daerah Jawa diesbut Ginggiyang (Sunda) Girang (Jawa Tengah) Jirang (Madura), Ki buhaya, Ki buaya. Kayu ajer perempuan (Melayu). Sulawesi Mali-mail (Makasar) Uka (Buru). Maluku Uka (Depkes, xxxx).
Nama daerah di Kalimantan untuk Leea aquleata L. bermacam-macam yaitu Bundong, Denigirut, Kenyupiang, Kruang, Mali-mali, Mali-mali beduri, Mali-mali bini, Njebo, Amamali (Sul.), anmamali (S.L. Bis.), bulindunau (P. Bis.), garadat (Bik.), gemamali (Buk.), humamali (Mbo.), hara (Tag.), kemamali (Buk.), lumali (Sub.), mali-mali (Pamp., Tag), mamalig (Mag.), pamangkilon (Bis.), sipit-kahig (Tag.), sipit-kayin (Tag.) (BPI, xxxx).
Pada pemeriksaan morfologi tumbuhan Mali-mali (Leea aequata L.) diperoleh hasil, yaitu jenis daun majemuk, daunnya berbentuk memanjang, \ tulang daun menyirip, tepi daunnya bergerigi, berjenis daun majemuk, dengan batang tumbuhan berbentuk bulat, monopodial, jenis batang berkayu, dan sistem perakaran merupakan akar tunggang.
emeriksaan anatomi tumbuhan yang diperoleh yaitu pada daun dengan irisan melintang dan pada irisan membujur hanya terlihat adanya epidermis. Bagian batang pada irisan melintang terlihat adanya epidermis, pada irisan membujur terlihat adanya epidermis, korteks dan berkas pengangkut. Bagian akar pada irisan melintang terlihat adanya epidermis berkasa pengangkut, dan silinder pusat, pada irisan membujur terlihat adanya epidermis.
Untuk uji bau pada bagian tumbuhan Mali-mali (Leea aequata L.) yaitu pada daun dan batang memiliki bau khas, sedangkan pada akar tidak berbau.Untuk uji rasa pada bagian tumbuhan Mali-mali (Leea aequata L.) yaitu pada batang dan daun terasa agak pahit, sedangkan pada bagian akar berasa pahit.Untuk uji warna pada bagian tumbuhan Mali-mali (Leea aequata L.) yaitu pada daun berwarna hijau, pada batang dan akar berwarna coklat
Pada reaksi identifikasi terhadap lignin daun Mali-mali (Leea aequata L.) memberikan hasil negatif, karena tidak terdapat dinding sel yang berwarna merah yang menandakan adanya lignin.
Pada reaksi identifikasi terhadap pati dan aleuron daun Mali-mali (Leea aequata L.) memberikan hasil negatif karena tidak adanya warna kuning kecoklatan setelah ditambahkan dengan I2 0,1 N.
Pada reaksi identifikasi terhadap lendir daun Mali-mali (Leea aequata L.) memberikan hasil negatif, karena warna yang dihasilkan tidak berwarna merah melainkan warna biru muda.
Pada reaksi identifikasi terhadap katekol daun Mali-mali (Leea aequata L.) memberikan hasil positif, karena larutan yang dihasilkan setelah ditambahkan FeCl3 1 N berwarna merah intensif.
Pada reaksi identifikasi terhadap polifenol daun Mali-mali (Leea aequata L.) memberikan hasil negatif, karena warna yang dihasilkan dari serbuk daun Mali-mali (Leea aequata L.) setelah ditambahkan H2O yang dipanaskan terlebih dahulu baru ditambahkan FeCl3 1 N setelah larutan dingin adalah larutan berwarna biru hitam.
Pada reaksi identifikasi terhadap karbohidrat daun Mali-mali (Leea aequata L.) memberikan hasil positif, dimana terbentuk endapan merah setelah dipanaskan dengan pereaksi Benedict dan Fehling.
Pada reaksi identifikasi terhadap alkaloid daun Mali-mali (Leea aequata L.) memberikan hasil negatif
Pada reaksi identifikasi terhadap tanin daun Mali-mali (Leea aequata L.), dilakukan empat prosedur yaitu
a. Pada prosedur pertama, setelah serbuk daun Mali-mali (Leea aequata L.) didihkan dengan H2O, kemudian disaring dan filtratnya ditambahkan 2 tetes HCl 0,5 N, menunjukkan hasil positif, karena terbentuk endapan putih.
b. Pada prosedur kedua, setelah serbuk daun Mali-mali (Leea aequata L.) ditambahkan 3 tetes FeCl3 1 N, memberikan hasil negatif karena terbentuk larutan hijau pekat.
c. Pada prosedur ketiga, setelah serbuk daun Mali-mali (Leea aequata L.) ditambahkan 2 tetes H2SO4 pekat, memberikan hasil positif karena terbentuk endapan cokelat kuning.
d. Pada prosedur keempat, setelah sebuk daun Mali-mali (Leea aequata L.) ditambahkan besi (III) ammonium sulfat menghasilkan larutan biru sampai hitam.
Pada reaksi identifikasi terhadap dioksiantrokinon daun mali-mali memberikan hasil negatif, karena menghasilkan larutan hijau pekat setelah serbuk daun masisin ditambahkan KOH 10%, bukan terbentuk larutan merah.
Pada reaksi identifikasi terhadap saponin daun mali-mali memberikan hasil positif, karena dihasilkan buih yang dapat bertahan 30 detik.
Saat ini penggunaan tanaman sebagai bahan untuk mengobati suatu penyakit sudah sangat berkembang. Banyak masyarakat yang menggunakan tanaman yang ada di sekitarnya sebagai obat. Sebenarnya, hal ini telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak dulu. Namun, pengetahuan mengenai obat alam ini mulai berkembang di Indonesia baru-baru ini.
Salah satu contoh dari tanaman yang berkhasiat sebagai obat adalah Mali-mali (Leea aequata L.).). Menurut masyarakat di wilayah Muara Hatip Desa Hulu Banyu Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan, tanaman Mali-mali (Leea aequata L.) ini memiliki khasiat sebagai obat kuat bagi kaum pria atau yang lebih sering disebut dengan tonikum. Namun, hal ini masih belum diketahui dengan pasti karena banyak masyarakat yang belum mengetahui manfaat tanaman ini. Ini merupakan tugas seorang farmasis untuk menganalisa khasiat tanaman Mali-mali (Leea aequata L.) ini sebagai afrodisiaka.
Pada pemeriksaan farmakognostik ini dilakukan beberapa pemeriksaan, yaitu pemeriksaan morfologi, anatomi, dan organoleptis tanaman, serta pemeriksaan reaksi identifikasi terhadap beberapa gugus kimia. Menurut hasil pemeriksaan morfologinya, tanaman Mali-mali (Leea aequata L.) memiliki bentuk daun memanjang. Sistem perakaran tunggang, percabangan batang monopodial dengan jenis batang berkayu, tulang daun menyirip, tepi daun bergerigi, susunan tulang daun menyirip, jenis daun merupakan daun majemuk.
Pemeriksaan anatomi tanaman dilakukan dengan mengamati semua bagian tanaman Mali-mali (Leea aequata L.) yang dipotong baik secara melintang maupun membujur. Mali-mali (Leea aequata L.) merupakan tanaman yang memiliki jaringan pengangkut yang menyebar serta terdapat rongga udara pada batang yang dipotong secara melintang. Pada pemeriksaan organoleptis yang dimaksudkan untuk mengetahui rasa, warna dan bau dari semua bagian tanaman, khususnya bagian yang berkhasiat obat. Tanaman Mali-mali (Leea aequata L.) memiliki rasa yang agak pahit dan bau yang khas pada daun dan batang. Sedangkan pada akar lebih terasa pahit dan tidak berbau.
Selain itu, juga dilakukan reaksi identifikasi beberapa gugus kimia yang di duga terdapat pada bagian tanaman yang berkhasiat. Pada pemeriksaan ini didapatkan beberapa reaksi yang menunjukkan hasil yang positif seperti pada identifikasi katekol, tannin dan saponin. Dari beberapa reaksi, sangat banyak reaksi yang tidak menunjukkan hasil positif. Misalnya seperti polifenol dan flavonoida yang menurut literatur terdapat dalam tanaman ini, ternyata dalam pemeriksaan reaksi identifikasi terhadap polifenol dan alkaloida tidak menunjukkan hasil yang positif. Hal ini dapat disebabkan karena adanya kesalahan dalam memperlakukan sampel saat pembuatan simplisia. Zat aktif yang terkandung dalam simplisia dapat hilang atau rusak karena kesalahan dalam proses pengeringan, ataupun karena masih ada bahan pengotor lain yang tidak terbuang saat sortasi basah maupun sortasi kering.
Akhriyan, Ahmad. 2009. Flora Taman Nasional Ujung Kulon
http://iyan-budakkulon.blogspot.com/2009/07/flora-taman-nasional-ujung-kulon.html
Diakses tanggal 4 November 2009
Depkes, xxxx. Khasiat
http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku1/1-171.pdf
Diakses tanggal 4 November 2009
</a


Kamal Ansyari
4 Maret 2010 at 8:00 pm
Tolong jaga dan lestarikan alam hutan Loksado dari penambang-penambang yang hanya menginginkan uang dan harta tanpa memikirkan kerusakan hutan nantinya.
Hutan Loksado yang indah ini adalah warisan untuk anak cucu kita di masa depan.
j1e108048
4 Maret 2010 at 8:06 pm
mari jaga bersama,,,,
lely
7 Mei 2010 at 6:21 pm
assalamuaalaikum. salam kenal sebelumnya saya anak d3 farmasi di palangkaraya, sekarang lagi tugas akhir.rencanaya saya mau penelitian mirip dengan tulisan diatas kalau bileh share. gimana cara kita menentukan untuk penamaan tanaman tersebut disini memiliki nama lokal bawang lembak.untuk proses uji-uji yang gimana caranya ya.makasih.
j1e108048
22 Mei 2010 at 9:18 am
wah2,, spertinya ilmu saya blom sampai disana,,
klw utk penamaan bisa diajukan ke bogor,, -> lupa namanya,, yang ada “bogorinensis”nya itu lo,,
klw untuk uji,, dimulai aja dari uji pendahuluan, baru uji kadar sari, kadar abu, dll
yuni
13 Mei 2010 at 2:37 pm
foto tanaman mali-malinya kok tidak dimunculkan…kita kn blum pernah liat…
j1e108048
22 Mei 2010 at 9:17 am
Maaf,, blom sempet upload,,,
makasih dah berkunjung..
gambutku
30 Mei 2010 at 11:10 am
praktikumnya sampai ke loksado ya.:D
Norhadijah Je
31 Mei 2010 at 6:52 pm
iya,, ke kotabaru juga pernah,,
welda
12 Oktober 2010 at 9:02 pm
gambar contoh tumbuhannya mana ?